Tuesday, June 14, 2011

Wisata Budaya Kampung Batik Laweyan

Solo merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang masih kental dengan budaya Jawa. Dengan slogan pariwisatanya “The Spirit of Java” ini, Kota Solo bertekad terus menjaga dan melestarikan budaya jawa untuk mengaet para wisatawannya berkunjung ke kota ini. Batik merupakan salah satu produk budaya yang telah menjadi Icon Kota Solo. Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya. Khas batik Solo sudah dikenal di seluruh Indonesia dan menjadi produk andalan ekspor.
Kota Solo memang merupakan salah satu tempat wisata belanja kain batik terkenal di Indonesia. Disini banyak sekali terdapat sentra kain batik, dan salah satunya yang tersohor adalah Kampung Batik Laweyan. Pada artikel ini akan membahas tentang kebudayaan masyarakat kampong Laweyan dan hasil dari kebudayaannya itu sendiri.

Kampung Laweyan
Kampung Laweyan berada di wilayah Desa Lawiyan atau Laweyan, Kecamatan Lawiyan, Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Perjalanan menuju Laweyan dapat diawali dari kota Solo dengan waktu sekitar 30 hingga 45 menit perjalanan. Kampung Laweyan merupakan salah satu sentra industri Batik Solo. Bagi pecinta Batik Solo, nama kampung ini mungkin sudah tidak asing lagi. Konon, di kampung inilah corak Batik Solo yang kemudian mempengaruhi gaya batik di Yogyakarta, Pekalongan serta Lasem lahir.

Kampung Batik Laweyan
Sumber : www.http://kabarsoloraya.com
Ketika pertama kali masuk ke kampung Laweyan, deretan bangunan tua seakan menyambut kedatangan Anda. Konon, hampir sebagian besar arsitektur bangunan itu dipengaruhi oleh perpaduan rumah tradisional Jawa, Cina, dan Eropa. Menurut sejarahnya, kampung ini telah menjadi kawasan sentra industri batik sejak tahun 1546 Masehi. Dari dulu hingga kini, masyarakat di kampung ini secara terus menerus menekuni kegiatan membatik. Bagi warga Laweyan, membatik merupakan tradisi turun temurun. Begitu kuatnya tradisi membatik, rumah mereka seringkali tidak hanya dimanfaatkan sebagai tempat tinggal, melainkan juga menjadi tempat produksi sekaligus kios Batik.
Ciri khas bentuk rumah tradisional Laweyan yakni terkesan kuno. Pagarnya terbuat dari tembok batu bata dan semen setinggi 3 hingga 5 meter dari permukaan tanah. Tak heran, jika jarak setiap rumah yang berhadapan tampak seperti membentuk lorong sempit. Tak hanya itu, bangunan rumah di Kampung Laweyan umumnya dibangun bederet. Jika terdapat dua rumah yang dibangun saling berdekatan, seringkali diantara rumah tersebut terdapat satu pintu penghubung. Meskipun diantara mereka saling bersaing untuk menawarkan batik kreasinya, dari pintu itulah silahturahmi dengan tetangga sekitar tetap terjaga.

Masyarakat Laweyan dan Peradabannya
Etnis dan suku yang banyak berada di Laweyan adalah suku jawa, berdasarkan kesamaan etnis, sejak jaman kerajaan Mataram,Laweyan banyak di tinggali oleh bangsa Jawa dan profesinya dalah juragan batik sampai sekarang. Mayoritas Mata Pencaharian penduduk di Laweyan sebagian besar adalah pedagang batik ini semua berkat jasa Kyai Ageng Henis,selain menyebarkan agama, Kyai Ageng Henis juga mengajarkan masyarakat laweyan bagaimana caranya membuat batik. Jadilah Laweyan yang dulunya hanya memproduksi kain tenun kini berubah menjadi produsen batik. Masyarakat di laweyan menurut sejarahnya adalah masyarakat yang menghasilkan keturunannya dengan tradisi kawin saudara, yaitu menikah dengan keluarganya yang masih berhubungan darah. Tujuannya adalah harta benda yang di miliki keluarga itu tidak jatuh ketangan orang lain yang bukan saudara. Selain itu pernikahan antar saudara juga bisa menciptakan suatu keluarga besar yang nantinya bisa melanjutkan usaha batik mereka.



Batik Khas Laweyan
Di kampung Laweyan, kita dapat menemukan beragam jenis batik, seperti batik tulis, cap maupun batik printing. Dari sekian banyak motif, motif khas batik Laweyan yakni Tirto Tejo dan Truntum. Berikut adalah gambar jenis batik yang ada dan motif batik khas Laweyan itu sendiri.

batik cap batik tulis batik printing


Motif batik Tirto Tejo Motif batik Truntum
Sumber : http://demambatik.blogspot.com

Di kampung ini, kita juga dapat membeli batik dengan beragam motif sesuai selera. Tak hanya berupa sehelai kain bahan, pengrajin batik di Laweyan juga membuat bahan batik menjadi bedcover, seprei, baju, tas, serta kerajinan lain. Untuk harganya, membeli batik langsung dari pengrajin Laweyan relatif lebih murah jika dibandingkan dengan tempat lain karena yang telah dijelaskan tadi Kampung Laweyan merupakan sentral pengrajin batik. Ketika berkunjung ke kampung Laweyan, kita tidak hanya dapat membeli beragam motif dan jenis batik. Di beberapa kios ada yang menawarkan dan juga dapat melihat langsung, bagaimana batik tersebut dibuat. Kita dapat melihat dari dekat proses pembuatan motif batik, pewarnaan, pencelupan, hingga pengeringan. Bahkan, jika tertarik, kita juga dapat membuat sendiri batik tulis sesuai dengan motif yang diinginkan.
Di Kampung Batik Laweyan, batik tulislah yang paling dicari oleh pembeli karena motifnya itu yang membuat jatuh hati para pembelinya. Tak heran mengapa batik tulis memiliki harga mahal, karena butuh proses lama dan keahlian tinggi bagi si pembatik. Adapun proses pembuatan batik tulis meliputi beberapa tahapan :
› mola (membuat pola),
› ngiseni (mengisi bagian yang sudah dibuat polanya),
› nerusi (membatik pada sisi sebaliknya),
› nemboki (menutup bagian kain yang tidak akan diwarnai),
› mbiriki (proses penghalusan tembokan),
› pewarnaan,
› nglorot (merebus kain agar malamnya larut / lepas)
› dan mbabari.

Kesimpulan dan Saran
Kampung laweyan sebagai salah satu situs sejarah yang paling terkenal di Indonesia harus di lestarikan yaitu tentang batiknya, dan juga budaya masyarakatnya serta mitos yang dimiliki masyarakat Laweyan. Hal ini perlu dijaga agar tidak terjadi klaim yang membuat batik Laweyan diambil oleh negara atau daerah lain. Yang tidak lain batik ini merupakan julukan atau identitas dari Kota Solo dan juga Kampung Batik Laweyan.


DAFTAR PUSTAKA
Ari. 2010. “Kunjungan Ke Kampung Laweyan,” dalam SentraKUKM.com. http://www.sentrakukm.com/index.php/beranda/330-kunjungan-ke-kampung-laweyansolo-. Diunduh Minggu, 3 April 2011

http://www.scribd.com/doc/38070487/Batik-Solo. 2011. “Batik Solo,” dalam Scribd . Diunduh Minggu, 3 April 2011

No comments:

Post a Comment

Post a Comment